Hermenetika dapat digunakan dalam bidang
apapun seperti hermenetika orang tua dengan anak, hermenetika guru dengan siswa
dan lain sebagainya. Unsur dasarnya adalah lurus dan melingkar. Setiap orang
berbeda keterampilannya dalam menembus ruang dan waktu karena ruang dan waktu
itu berdimensi-dimensi. Pemikiran orang berpendidikan dengan yang tidak berbeda
dalam menembus ruang dan waktu. Melingkar artinya berinteraksi. Yang diatas
guru, yang di bawah murid, demikian pula hubungan antara kakak dengan adik,
akhirat dengan dunia, dst, dan ternyata hal itu pun meliputi yang ada dan yang
mungkin ada. Tanaman pun berhermenetika, artinya bagaimana tanaman itu
berhemenetika dengan matahari. Maka harapannya setiap kita dapat bebas,
merdeka, dalam mengekspresikan diri kita dalam menjalani kehidupan ini. Namun,
harus hati-hati dan mempunyai pedoman yang kuat dalam menjalani hidup karena
banyak hal-hal negatif yang dapat merugikan diri kita yang berasal dari dalam
maupun dari luar diri kita.
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Januari 2013
Tanya Jawab Filsafat Refleksi Kuliah Tanggal 17 Desember 2012
Berikut
refleksi kuliah filsafat pendidikan matematika yang telah dilaksanakan.
Mahasiswa memnyampaikan pertanyaan yang kemudian dijelaskan oleh dosen, Bp.
Marsigit.
Lina
Dwi Aris: Apa yang dimaksud dengan hakikat angin?
Obyek
filsafat itu berdimensi sehingga cara mengetahui obyeknya pun juga berdimensi.
Dimensi yang paling primitif adalah dimensi intuisi. Sejak kapan kamu kenal
dengan angin? Jika tidak bisa mengetahui sejak kapan, maka kita termasuk kaum
intuisinoism. Jadi intuisi itu sangat penting. Hampir dalam hidup kita ini ada
dalam intuisi. Berinteraksi dengan benda-benda itu adalah merupakan langkah
kita untuk mendapatkan intuisi. Maka immanuel kant membentuk kategori-kategori
yang kemudian digunakan kembali untuk berfikir. Artinya, kita dalam membedakan
besar dan kecil misalnya. Maka dalam belajar filsafat ada 4 langkah yaitu
secara material, normal, normatif, dan spiritual. Secara material, terdapat
angin,,,dst . Setiap yang ada dan yang mungkin ada itu terdapat intuitif.
Intuitif antar orang yang satu dengan yang lain itu berbeda.
Rabu, 19 Desember 2012
Tanya Jawab Filsafat
Refleksi Kuliah, 10 Desember 2012
Setelah pertanyaan dari seluruh mahasiswa disampaikan, berikut hasil refleksi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika bersama Prof. Dr. Marsigit di FMIPA UNY.
ΓΌ
Apakah
segala yang ada di alam semesta ini memiliki pola? (Yulian Angga P)
Jawab:
Rabu, 05 Desember 2012
Mitos dan Intuisi
Filsafat bertransformir secara makro dan mikro. Secara makro berarti universal dan secara mikro berarti apa yang terjadi di dalam diri kita. Ketika orang Yunani mengalahkan mitos-mitos sebenarnya hal itu juga terkait dengan diri kita sesuai dengan ruang dan waktu. Orang Yunani dewasa yang membongkar mitos. Jangan dianggap mitos tidak ada manfaatnya. Justru mitos ini bermanfaat bagi anak-anak. Anak kecil dalam belajar segala sesuatu menggunakan mitos. Ia tidak mengerti artinya, tetapi melakukannya. Hampir 90% anak belajar dari mitos dan ia belum memikirkannya.
Mitos bisa dimengerti bahwa seorang anak tidak akan memikirkan sesuatu yang akan terjadi jika ia melakukan sesuatu. Anak hanya melakukan apa yang ia lakukan tanpa memikirkan akibat dan risiko yang terjadi. Misalnya, ketika melihat api, anak bisa jadi mengingikan untuk memegangnya, ia melakukan tetapi tidak akan memikirkan bahwa jika ia melakukan tangannya akan terbakar. Sholat misalnya, bagi anak itu juga mitos. Anak kecil yang belum mengerti makna sholat, tetapi ia ikut melakukan sholat sekalipun belum mengerti bahwa dalam sholat terdapat nilai ibadahnya. Sama halnya dengan orang Yunani, di dalamnya juga terdapat banyak mitos. Siswa pun juga belajar dengan mitos. Ketika belajar pythagoras misalnya, siswa juga bisa menggunakan mitos pythagoras dalam menemukan sisi miring segitiga siku-siku.
Mitos bisa dimengerti bahwa seorang anak tidak akan memikirkan sesuatu yang akan terjadi jika ia melakukan sesuatu. Anak hanya melakukan apa yang ia lakukan tanpa memikirkan akibat dan risiko yang terjadi. Misalnya, ketika melihat api, anak bisa jadi mengingikan untuk memegangnya, ia melakukan tetapi tidak akan memikirkan bahwa jika ia melakukan tangannya akan terbakar. Sholat misalnya, bagi anak itu juga mitos. Anak kecil yang belum mengerti makna sholat, tetapi ia ikut melakukan sholat sekalipun belum mengerti bahwa dalam sholat terdapat nilai ibadahnya. Sama halnya dengan orang Yunani, di dalamnya juga terdapat banyak mitos. Siswa pun juga belajar dengan mitos. Ketika belajar pythagoras misalnya, siswa juga bisa menggunakan mitos pythagoras dalam menemukan sisi miring segitiga siku-siku.
Senin, 26 November 2012
MENEMBUS RUANG DAN WAKTU
Telah dimengerti bahwa berfilsafat adalah olah pikir
yang bisa berarti olah pikir sendiri, olah pikir bersama-sama, olah pikir
bangsa indonesia, olah pikir bangsa-bangsa di dunia, olah pikir memikirkan
akhirat atau yang lain. Dalam berfilsafat kita harus menggunakan referensi
yaitu pikiran para filsuf. Oleh karena itu, berfilsafat yaitu memikirkan
pikiran para filsuf.
Senin, 12 November 2012
ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT, TOKOH, DAN IDENYA
A.
PENDAHULUAN
Filsafat merupakan ilmu yang mengalir. Perkembangan
filsafat mulai dari Zaman Yunani Kuno hingga Zaman Modern (Power Now) diibaratkan sebagai ilmu yang mengalir dari
gunung-gunung yang memiliki sungai hingga ke lautan dalam. Berikut penggambaran
perkembangan filsafat dari masa ke masa secara umum:
Rabu, 07 November 2012
Aliran Filsafat dan Kaitannya dalam Berfilsafat
Aliran
filsafat bisa tergantung obyeknya. Jika obyeknya benda-benda alam, maka
filsafatnya adalah filsafat alam. Namun, aliran filsafat juga bisa diberi nama
sesuai dengan tokohnya. Misal Hegel, ia adalah tokoh yg mengatakan bahwa
segala yang ada dan yang mungkin ada itu sejarah. Jadi, filsafat sejarah adalah Hegelialism.
Senin, 08 Oktober 2012
Hakikat dan Adab Filsafat
Agar
kita bisa mempelajari filsafat pendidikan matematika maka kita perlu belajar
filsafat. Filsafat adalah olah pikir refleksif sehingga dalam perkuliahan pun
harus berfikir, bukan menulis. Jadi, kuliah refleksif artinya setiap
perkuliahan harus merefleksi kembali, yaitu mengungkapkan kembali. Dari apa
yang diperoleh dalam perkuliahan, harus diungkapkan kembali.
Selanjutnya, mengapa
harus filsafat terlebih dulu yang harus dipelajari ?
Langganan:
Postingan (Atom)