Rabu, 19 Desember 2012

Tanya Jawab Filsafat


Refleksi Kuliah, 10 Desember 2012
Setelah pertanyaan dari seluruh mahasiswa disampaikan, berikut hasil refleksi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika bersama Prof. Dr. Marsigit di FMIPA UNY. 
ü  Apakah segala yang ada di alam semesta ini memiliki pola? (Yulian Angga P)
Jawab:
Bagi orang yang tidak memahami, sebuah pola itu bukan pola. Bagi orang yang memahami dan mempercayainya, maka semuanya sudah didesain oleh Tuhan sehingga semuanya berpola. Hanya saja kemamuan manusia terbatas untuk melihat pola yang ada. Tergantung dari keyakinan dan pikiran kita.
ü  Apa hakikat perbedaan dalam persatuan? (Rina Susilowati)
Jawab: Orang dapat berbeda dalam banyak hal tetapi orang bisa sama dalam beberapa hal. Semua orang berbeda, tapi semua orang itu pada dasarnya sama. Manusia sama-sama membutuhkan oksigen, semua manusia pasti mati, semua hidup. Namun, tidak ada manusia yang sama karena manusia terikat oleh ruang dan waktu. Jadi dalam filsafat itu, sama apanya, dan beda apanya.
Kapan sesuatu disebut sebagai mimpi? Kualitas mimpi ada yang rendah dan tinggi tergantung pada pengalaman hidupnya. Kalau bicara tentang rindu, terkadang begitu rindunya, terbawalah apa yang difikirkan ke dalam mimpi. Berkaitan dengan mimpi maka hal itu berhubungan dengan psikologi. Area mimpi bisa juga dipelajari dalam pendekatan psikologi, yaitu gejala jiwa.
ü  Apa beda cinta dan sayang? (Ermitasari)
Jawab: Sayang itu kontekstual, begitu juga dengan cinta. Keduanya berdimensi dan merupakan intuisi. Kita akan sulit mengkarakteristikkan cinta, menyebutkan sifat-sifatnya dan sulit mencirikan sehingga cinta sulit didefinisikan. Kita tidak bisa mendefinisikan cinta karena arti cinta akan tergantung pada konteksnya. Bagaimana cara membedakannya, maka cara membedakan cinta dan sayang adalah dengan intuisi. Artinya, pengalaman kita, orang-orang di sekitar kita lah yang mendefinisikan cinta dan sayang. Jadi, arti cinta ataupun sayang itu kontekstual tergantung pengalaman orang yang mendefiniskannya. Sedangkan mengatakan sayang dalam konteks apa, dalam kejadian apa, tak lain itu adalah intuisi dan pada level tertentu, maksud cinta dan sayang bisa jadi sama, bisa juga berbeda.
ü  Mengapa yang tidak ada termasuk objek? (Dwi Kartika S)
Jawab: Tidak ada tergantung ruang dan waktunya. Yang tidak ada itu ada kemungkinan menjadi ada, sehingga yang tidak ada pun bisa dikategorikan termasuk yang mungkin ada. Ketika kita memikirkan sesuatu ada tetapi ternyata tidak ada, maka dapat dimengerti bahwa yang ada bisa menjadi yang mungkin ada. Namun, hal itu dalam filsafat akan berbahaya, yang mungkin ada akan terus berlanjut dalam pikiran kita. Jadi, berfilsafat itu harus hati-hati ketika telah masuk ke dalam ranah spiritual atau keyakinan dan kita harus memasukkan pikiran lain.
ü  Apa hakikat guru yang galak? (Nurmanita)
Jawab: Tidak ada keseimbangan antara hakikat dan galak. Sebaiknya pertanyaannya adalah “Apa ciri-ciri guru yang galak?” mungkin ciri-ciri guru galak adalah pemarah, tidak toleransi, atau suka memaksa kehendak. Karena “galak” termasuk sifat.
ü  Bagaimana menghadapi orang yang enggan untuk berbagi ilmu pengetahuan (pelit) kepada orang lain? (Arlian Beti)
Jawab: Kita sebagai manusia, tak lepas dari komunikasi. Namun, tidak perlu dipaksakan dalam hal komunikasi jika itu yang dilakukan tidak ikhlas. Pelit juga berdimensi. Dalam hal berilmu, sebaiknya memurahkan diri. Membuka karya-karya yang telah dihasilkan kepada orang lain sehingga ilmunya bermanfaat. Namun, pada orang-orang yang berada di tingkat teknologi maju, di negara-negara maju/kapital dan berorientai bisnis, maka mereka sudah mulai menghargai apa yang mereka pikirkan. Maka di Amerika ada Teachers Pay teachers (guru membayar guru). Artinya guru membuat karya dalam bentuk file kemudian orang yang akan mengambil file mereka harus membayar.
Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik maka metode komunikasi yang tepat juga sangat penting untuk diterapkan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Cara kita berkomunikasi dan keterampilan kita untuk berkomunikasi perlu memperhatikan bahasa dan cara berkomunikasi. Seperti apa yang kita gunakan akan berpengaruh pada terciptanya komunikasi yang baik. Jadi, keterampilan berkomunikasi sangat penting untuk memahami orang lain dan apa yang kita komunikasikan dapat diterima oleh orang lain.
ü  Bagaimana memberikan pemahaman Pure Mathematics kepada guru? (Naafi Awwalunita)
Jawab: Ketika kita berkata “memberikan”, artinya memandang orang lain sebagai obyek. Padahal, prinsip hidup orang adalah life skill /keterampilan hidup. Jadi, bukan memberikan pemahaman kepada orang lain, tetapi merekalah yang harus belajar dan membangun sendiri pengetahuannya. Maka dalam hal ini, guru sendiri lah yang seharusnya membangun sendiri pengetahuannya sehingga memperoleh pemahaman yang baik. 
ü  Apa penyebab krisis multidimensi? (Felisitas Sayekti)
Penyebab krisis multidimensi sebenarnya adalah guru. Guru yang hanya menyampaikan ilmu tanpa ada kegiatan siswa yang dapat membangun sendiri pengetahuannya, akan menjadi penyebab krisis dimensional. Hal itu dikarenakan siswa tidak belajar secara alami dan akan kehilangan intuisi sehingga hidupnya akan menyimpang dari aturan-aturan yang ada.
ü  Kenapa belajar filsafat sulit?
Jawab: Belajar filsafat sulit karena filsafat itu sifatnya intensif (dalam sedalam-dalamnnya) dan ekstensif (luas seluas-luasnya). Itulah yang membuat sulit karena filsafat itu luas seluasnya dan meliputi yang ada dan yang mungkin ada.
ü  Apa yang dimaksud dengan hermenetika? (Siti Subekti)
Jawab: Hermenetika itu terjemahan dan menerjemahkan sedangkan dalam masyarakat kita tidak lain adalah silaturahim. Jadi dalam hal pendidikan matematika, maka guru perlu mengajak siswa untuk bersilaturahim dengan matematika.
ü  Apakah dalam filsafat ada kaitan antara khayalan dan cita-cita? (Aries Saputra)
Jawab: Tentu saja. Cita-cita merupakan khayalan, tetapi khayalan belum tentu merupakan cita-cita. Cita-cita adalah khayalan yang tersistem. Cita-cita mempunyai alasan, dasar, landasan, maupun latar belakang. Jadi, dalam bercita-cita, perlu adanya dasar atau landasan sehingga cita-citanya dapat tercapai. Misal, cita-cita yang didasari karena orang tuanya berprofesi sebagai dokter, maka anak bercita-cita menjadi seorang dokter pula. Dalam istilah lain, cita-cita merupakan khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.
ü  Apa arti sombong? (Zainab)
Jawab: Pengertian sombong juga bertingkat-tingkat. Mulai dari orang awam, mulai dari psikologi, hingga spiritual. Dalam spiritual, sombong identik dengan syetan. Namun, tanpa didefinisikan, melalui intuisi kita pun telah memahami arti sombong. Apabila kita tidak mengerti, maka hal itu berarti kita telah kehilangan intuisi.
Rekaman: click here 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar